Minggu, 22 Juli 2012

Puasa, Dulu dan Sekarang


Puasa, Dulu dan Sekarang
Hari ini, hari Minggu tanggal 22 Juli 2012 kita sudah memasuki Ramadhan minggu pertama. Seiring dengan itu dimulai pula rutinitas Ramadhan umat muslim di Indonesia, pekerja kantoran pulang lebih awal dari biasanya, anak-anak muda ngabuburit setiap sore pada bulan Ramadhan, pasar kaget muncul di mana-mana, pedagang kembang api dan petasan mulai bermunculan, dan masih banyak lagi fenomena yang hanya bisa ditemui ketika bulan Ramadhan.


Tapi, semua fenomena yang menggambarkan hingar bingar dan meriahnya bulan Ramadhan di atas hanya ada di Indonesia dan sedikit negara di belahan bumi ini. Dari sebagian contoh kecil tentang fenomena Ramadhan di atas, hampir semuanya identik dengan  bertambahnya tingkat konsumsi atau belanja masyarakat. Muncul pertanyaan kenapa kok peningkatan belanja masyarakat malah ada di bulan Ramadhan yang notabene bulan puasa dan “pengurangan konsumsi” ?

Selain penambahan konsumsi di masyarakat, di bulan puasa juga muncul kegiatan punya anak-anak gaul abad 21,yang pastinya semua uda pada tau yang namanya ngabuburit ato acara buat ngisi waktu sebelum berbuka yang kebanyakan identik dengan having fun.

Oke, terlepas dari tulisan di atas, sekarang penulis mau mencoba kembali ke masa lalu, ke 14 abad yang lalu di sebuah tempat yang kalo siang panas luar biasa, tapi kalo malem dingin luar biasa, tempat itulah kelahiran Rasul Muhammad dan tempat awal berkembangnya Islam di muka bumi ini, Mekah.

Dan di bulan Ramadhan terjadi perang Badar yang dahsyat dan menguras banyak tenaga, pikiran serta harta.Pernahkah terbayang ketika kita sedang menahan lapar dan haus dalam puasa kita lalu pergi untuk melakukan perang di siang hari yang terik ? Bagaimana capeknya dan pengorbanan mereka untuk melaksanakan perang  dalam keadaan lapar dan haus yang sangat ?

Dari dua fenomena yang berlainan waktu dan tempat namun satu kegiatan, akan terlihat sekali perbedaan antara keduanya, baik dari fenomena selama Ramadhan hingga “beban” dari lingkungan. Sebenarnya penulis ingin memperlihatkan bagaimana dahulu para pejuang Islam melaksanakan puasa mereka dan mengisinya dengan perjuangan yang berarti pula. Dan bagaimana masyarakat sekarang mengisi Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat.

Setelah mengetahui bagaimana beratnya puasa pada jaman dahulu, apakah masih pantas kita mengeluh dan “pamer” dengan keadaan kita selama puasa? Padahal kita tak merasakan bagaimana beratnya puasa ketika jaman dahulu ketika Islam masih sangat kecil dan tertindas. Ini hanyalah instropeksi bagi penulis pribadi dari hasil observasi dan perbandingan realita yang ada..

Terimakasih kepada pembaca yang mau membaca artikel ini hingga akhir :D
Sekian :D 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar